catatan perjalanan

05.30

Perjalanan kali ini dimulai dari sekret lpm-sm. Saat ini aku bersama temanku sedang melakukan perjalanan yang disebut pradiklat. Aku sedikit kaget saat aku disuruh berjalan hingga surabaya. Oke mari kita berjalan dan mari tetap semangaaat!. Kami berangkat dari sekret menuju warung makan. Sejenak untuk mengisi tenaga dan juga bersantai dulu. Pukul 15.00 kita berangkat melewati suramadu, dan ternyata kita menggunakan sepeda motor. Alhamdulillah. Sampai disurabaya kita menuju tempat pertama. Tunjungan plaza. Disini aku ditugaskan untuk mengamati keadaan didalam mall, bagaimana orang2nya, bagaimana suasananya, dan sebagainya. Aku bertanya kepada beberapa pengunjung, spg, satpam bahkan cleaningservice. Aku menemukan banyak hal disini. Mulai dari para pengunjung yang dari kelas menengah keatas, mereka yang setiap minggunya wajib datang keTP untuk berbelanja. Kemudian sewa counter yang harus membayar dengan dollar. Kecopetan sampai human traficking juga pernah ada di TP. Para cleaning service disini berasal dari madura, mereka hanya lulusan SMP. Mereka berniat untuk  memperbaiki keadaan ekonomi kekuarga sehingga mereka melamar disini dan mengajak teman2nya pula untuk bekerja disini. Suasana hedonis sangat terasa saat memasuki mall ini. Orang-orang yang apatis dengan sekitarnya. Bahkan tatapan sinis sering di tujukan pada kalangan biasa yang memasuki mall ini.
Setelah dirasa cukup mengamati keadaan disini. Aku melanjutkan perjalanan kembali. Tempat ke dua. Taman Bungkul. Sebuah taman yang berada di jalan darmo surabaya. Masih dengan tugas yang sama. Pukul 8 malam aku mulai untuk mengamati keadaan sekitar taman bungkul. Banyak sekali para pengunjung disini. Mulai dari anak2, remaja, orangtua bahkan lansia juga ada. Mereka datang dengan berbagai macam tujuan. Sekedar ingin refreshing, mencari nafkah, berziarah dan ada yang ingin mendapatkan eksistensi dengan komunitasnya. Namun suasana disini sangat berbeda dengan tempat pertamaku. para pengunjung disini ramah dan saling membaur satu dengan yang lain. Dan jelas status sosial mereka hampir sama pada kalangan menengah, meskipun tetap ada dari kalangan kelas high dan upper. Setelah menjalankan tugasku. Kami berkumpul di sebuah tempat istirahat di area makam bungkul. Aku dan temanku mendapat wejangan dari salah satu senior kami. Ironis memang melihat keadaan taman bungkul yang memiliki 2 sisi berbeda. Didepan suasana bersenang-senang, memadu kasih, berlomba menunjukkan eksistensi. Sementara dibelakang banyak pengemis, para peziarah yang berdoa untuk kepentingannya serta para musafir yang sedang tertidur pulas di musholla sekitar makam. Tapi banyak sekali orang yang tidak memikirkan hal itu demikian pula aku, sebelum mengamati langsung hari ini. Sekitar pukul 00.00 kami menuju tempat ke tiga. Stasiun wonokromo. Udara dingin menyerbu tubuhku. Aku takut saat berada disini. Mereka bilang aku akan mengamati kehidupan prostitusi di dalam stasiun ini. Perlahan aku mulai memasuki area prostitusi. Semua mata lelaki tertuju padaku. Bagaimana tidak, aku satu-satunya perempuan yang memakai kerudung. Aku mencoba memperbaiki raut mukaku yang kacau akibat takut. Aku tidak mau terlihat kaku berada diantara mereka. Aku bersama salah satu seniorku berhenti di sebuah warung di pojok area prostitusi ini. Kami memesan minuman untuk menemani aksi kami mengamati sekitar. Aku melihat tenda-tenda tanpa penutup yang penuh dengan para pelacur dan para lelaki hidung belang. Entahlah mereka sedang asik bermain hingga tak memedulikan yang lain atau bagaimana. Aku mengalihkan pandanganku kepada deretan pelacur yang belum mendapatkan teman malam ini. Aku merasa sedih saat melihat ternyata tidak sedikit pelacur yang seumuran denganku. Dan mereka hanya mendapat upah RP. 25. 000 untuk alat pemuas laki-laki hidung belang. Mengapa mereka melakukan itu?. Bagaimana sekolah mereka?. Dimana orang tua mereka?. Banyak alasan yang mungkin tidak bisa dijelaskan dengan waktu singkat. Aku yakin semua perempuan tidak ingin menjadi pelacur. Namun banyak orang yang tidak memikirkan sejauh itu. Mereka hanya mencaci tanpa mengetahui. Mungkin jika berada dalam keadaan yang pelacur alami mereka tidak menolak untuk melacur. Kasian. Ingin menolong, namun bisa apa?. Setidaknya aku akan mencoba untuk tetap memanusiakannya sekalipun dia seorang pelacur. Sejenak beristirahat di pinggir rel kereta api. Menunggu matahari terbit kembali.
Selamat pagi!. Perjalanan masih belum berakhir. Kami menuju sebuah pasar di dalam sebuah gang kecil. Pasar tradisional Waru. Tetap dengan tugas yang sama. Aku langsung membaur dengan para penjual serta pembeli didalamnya. Aku mampir ke salah satu penjual. Berbincang banyak hal tentang pasar, makam yang berada di ujung pasar, bahkan tentang kehidupan keluarga ibu penjual tersebut. Pasar kecil ini sangat ramai, memang segala kebutuhan dapat ditemukan disini. Pasar waru hanya buka dari pagi hingga pukul 11.00. Para pengunjung disini mayoritas warga waru sendiri. Keadaan pasar tradisional waru berbalik 360` dengan keadaan di TP. Mereka ramah, mereka peduli dengan orang2 sekitarnya. Meskipun tempat yang sempit dan banyak aroma-aroma berbagai ikan, ayam serta lainnya. Setelah selesai mengamati aku menuju para senior yang telah menungguku. Aku fikir perjalananku sudah selesai, namun masih ada satu tempat lagi yang akan dituju. Rumah mas fuad. Salah satu senior di lpm-sm. Aku benar-benar tidak pernah bertemu dengan beliau. Disini kami ditugaskan untuk mengajak ngobrol dan membantah segala yang dikatakannya. Awalnya aku merasa yakin. Kami dapat saling membantu untuk membantah segala perkataannya. Namun ternyata obrolan kami membuat kami merasa bingung dan cegek. Cegek adalah istilah orang jawa untuk menyebut tidak dapat menjawab atau beropini kembali. Pertanyaan yang diberikan untuk kami sepele. "Apa definisi referensi?". Namun kami semua tidak dapat mempertanggung jawabkan jawaban yg kami lontarkan. Meskipun dengan bantuan google, kami malah semakin bingung. Benar memang. Terkadang kita sering menggunakan istilah yang kita tidak dapat menjelaskan apa maksud yang sebenar-benarnya. Bukan sering lagi lebih tepatnya selalu. Aku merasa bodoh sekali. Ya, aku perlu belajar lebih banyak dan banyak lagi mulai dari sekarang. Disini kami saling berbagi pengetahuan, bercanda, cerita-cerita. Pukul 12.00 kami mengakhiri perjalanan penuh kejutan ini dan kembali ke pulau yang banyak orang bilang pulau perantauanku. Kami kembali melewati suramadu. Jembatan terpanjang di indonesia.

Terimakasih untuk waktu singkat yang kalian luangkan untuk membimbing dan menemani kami. Selamat mengistirahatkan mata, punggung, kaki, serta fikiran sejenak. Selamat sore.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram