Terkadang saat senggang, aku senang memandangi mbak Nah. Setiap hari mbak Nah sibuk dengan pekerjaannya. Menyapu, mengepel dan juga membersihkan dapur serta kamar mandi. Kau tentu sudah tahu siapa mbak Nah. Tidak lain dan tidak bukan, dia adalah pembantu di kos ku. jangan berpikir mbak Nah adalah wanita paruh baya dengan kulit hampir keriput di bagian wajahnya. Meski sudah mempunyai dua orang anak, mbak Nah masih berumur sekitar dua puluh delapan tahun. Mbak Nah hanya bersekolah hingga tamat SMA dan setelah itu ia langsung disuruh menikah oleh orang tuanya. Perempuan hanya ada untuk beranak dan melakukan pekerjaan rumah dan tidak perlu sekolah sampai jenjang pendidikan tinggi. Hal tersebut yang dianut oleh kebanyakan masyarakat Madura pelosok, begitu pula mbak Nah. Ia memang orang Madura asli dan keluarga masih berpegang teguh dengan adat istiadat kemaduraannya.
Mbak Nah sering bercerita dengan para penghuni kos. Termasuk denganku. Mbak Nah sudah bekerja selama dua tahun di kos, tetapi yang sempat membuatku kaget saat berbincang dengnya adalah mbak Nah tidak tahu dimana letak Universitas Trunojoyo Madura. Padahal, dari kosku menuju kampus hanya berjarak lima ratus kilometer. Entah apa yang menyebabkan mbak Nah tidak mengetahui hal tersebut. Saat bercengkrama dengan mbak Nah aku selalu ingin bertanya, apa mbak Nah tidak pernah bosan dengan aktifitas hariannya. Setiap hari hanya mengepel, menyapu, membersihkan bak mandi, mencuci alat masak didapur hingga membetulkan posisi motor penghuni kos agar rapi. Tetapi setiap perrtanyaan itu ingin ku lontarkan, aku selalu mengurungkannya. Aku takut mbak Nah tersingung dengan pertanyaanku. Sehingga aku lebih memilih untuk diam dan mencoba mencari sendiri jawabannya.
Aku kerap merasa bosan dengan aktifitasku. Aku juga sering bingung dengan apa yang harus ku perbuat saat bosan melanda. Sampai akhirnya aku tidak melakukan aktifitas apapun dan hal tersebut merugikan diriku sendiri. Aku jadi ingat perkataan dari salah seorang kakak ku yang selalu mengaku kalau dirinya ganteng."kalau mau sembuh cari tahu dulu penyakitnya,". Sehingga akau berusaha mencari tahu apa penyebab aku bosan.
Aku menyadari setiap aktifitas yang aku lakukan kurang diiringi dengan niat yang benar-benar tulus. Selain itu, aku hampir menganggap aktifitas tersebut bukan bagian dari diriku. aku rasai hal tersebut yang membuatku enggan dan cepat merasa bosan dengan aktifitas sehari-hari. Kemudian aku teringat mbak Nah. Aku mulai mengerti mengapa mbak Nah tak pernah terlihat bosan dengan pekerjaannya walau pegal memang sering terlihat di raut wajahnya. Mbak nah melakukan pekerjaan tersebut dengan ketulusan. Ia menopang kehidupan dua anaknya dirumah. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Jika mbak Nah bosan dan malas bekerja, sudah pasti kedua buah hatinya akan kesuliitan untuk hidup layak.
Belajar memang tidak harus orang yang bergaya rapi dengan dasi dan tittle yang begitu panjang seperti kereta. Mbak Nah juga salah satu guru yang dapat diambil pelajaran dari kisah hidupnya. Bosan hanya perkara sugesti. Dan sugesti dapat dikendalikan sesuai hati dan pikiran diri sendiri.
Madura, 14 september 2015.

