Namaku Daiyu chenguang. Aku lebih suka dipanggil ndayu oleh
ibu. Bukan untuk menyembunyikan jika aku
kebetulan keturunan Cina. Bukan sebab, aku tidak mirip dengan ibu ku. Bukan
pula karena aku hidup di sebuah gang sempit dan berbaur dengan pendatang asal Madura,
Palembang, dan Bugis.
Aku tinggal di dalam rumah yang tidak terlalu besar. Hanya
terdapat satu kamar, dapur dan ruang tamu. Tak ada kursi di rumah kami. Tikar,
kompor minyak tanah, periuk nasi, panci alumunium dan dua buah piring seng serta gelas.
Sudah 20 tahun rasanya aku menetap di gang ini, setiap
menjelang petang aku senang menghabiskan waktu bersama ibu di sebuah warung di
sebrang gang ini. Warung ini hanya terbuat dari anyaman bambu dan terdapat tiga
buah meja. Diatas meja warung selalu tersaji pisang goreng, bakwan, dan yang
selalu aku tunggu mendo’an yang gurih. Aku menyukai tempat ini selain harga
yang ekonomis juga karena terdapat sebuah meja menghadap ke area persawahan, dari situ aku dan ibu bisa
menikmati senja sembari bercerita banyak hal.
Sore ini, aku pergi ke warung itu sendiri. Ibu sedang sibuk
mengurus tanaman buncis di sekitar rumah kami. Ibu ku senang sekali dengan
sayur buncis. Tak heran jika rumah kami di kelilingi tanaman buncis. Ketika
sampai di warung, aku memesan es teh manis seperti biasa.
“Tumben sendiri, ibu kemana,?” tanya pemilik warung sembari
menyodorkan pesananku.
“Ibu sedang mengurus tanaman buncis di rumah mbok,” jawabku.
Kemudian dia duduk disebelah dan berbisik. “Kau harus
hati-hati, mereka sering memperhatikan kau dan ibu mu,”
Aku terkejut sampai tersedak. Memang aku merasa sering ada
tatapan yang aneh. Kadang kala tiap aku dan ibu menyusuri gang untuk berkunjung
ke warung ini banyak sekali tatapan yang melihat aku dan ibu. Terlintas
dibenakku, adakah aku mengenal mereka? Atau salah satu diantara mereka adalah
teman sepermainan ibu dulu? Tetapi aneh. Ibu tidak pernah menoleh bahkan
menyapa mereka walau hanya sekali.
Aku memperhatikan wajah pemilik warung. Hidungnya lancip.
Matanya bulat dan kulitnya putih langsat meski sudah tidak kencang. Ku
beranikan diri untuk bertanya mengapa banyak dari mereka memandang kami
demikian.
“Sebaiknya kau tahu dari ibu mu,” sembari pergi.
Sepulang dari warung, aku bergegas menemui ibu. Seperti biasa
ibu sedang mengiris-iris buncis untuk makan malam ini. Secara tidak langsung
aku bertanya kenapa ibu senang sekali dengan sayur buncis. Ibu menatap ku
dengan tersenyum.
“Nak, buncis ini sayur yang mudah ditanam, ibu juga
menganggap buncis adalah makanan yang istimewa. Sebab itu, sering ibu sebut
sayur panglima, tapi kau jangan sebut-sebut sayur panglima disini, cukup kau
dengan ibu,” jelasnya.
Aku terhenyak. “Mengapa demikian,?”
“Ceritanya panjang, ibu akan memasak dulu tentu kau sudah
lapar,” jawab ibu sembari tersenyum.
Aku semakin ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan
buncis si sayur panglima dan tatapan mereka terhadap kami. Seusai makan malam,
aku kembali mendesak ibu untuk bercerita. Sembari ditemani secangkir teh hangat,
ibu mulai bercerita.
“Ndayu percaya takdir?,” tanya ibu.
“Tentu saja bu, kenapa ibu berkata demikian?,” aku semakin
penasaran.
“Itulah takdir ibu menjadi pandai memasak. Ibu memasak untuk
berbagai acara. Takdir mempertemukan ibu dengan Koko Oey Djoen. Ibu mendapatkan
bayaran besar setiap kali memasak di berbagai acara yang diselenggarakan oleh
Koko Oey Djoen. Ibu sama sekali tidak mengerti itu pertemuan apa, sungguh.
Tetapi ibu selalu cemas ketika Koko Oey Djoen berpidato secara berapi-api,”
cerita ibu memecah keheningan.
Ibu melanjutkan ceritanya meski air mata mengambang di
pelupuk matanya.
“Suatu malam, seusai memasak. Koko mengintruksikan untuk
semua lari dari rumah secepatnya demi keselamatan masing-masing. Ibu tidak
paham. Setelah itu Koko telah lari entah kemana. Kemudian terdengar suara
segerumbul orang berteriak. Kejar-kejar! Sembari mengumandangkan kebesaran
tuhan mereka. Tanpa berpikir panjang ibu ikut berlari.”
Ibu berhenti sejenak, aku bungkam terkejut.
“Ibu menumpang truk hingga sampai kerumah nenekmu di Jakarta,
namun pada pagi buta ada beberapa orang yang datang dan membawa ibu serta
paman-pamanmu. Ibu kira ibu akan diseret ke penjara, dengan mata tertutup ibu diseret
menuju rumah yang teramat besar. Didalamnya terdapat banyak laki-laki dan
perempuan. Kami perempuan dipaksa untuk telanjang. Dan salah satu dari mereka
menyetubuhi ibu, dari situ ibu mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan sering
dibicarakan sebagai partai terlarang,”
Ibu menghela nafas panjang.
“Kau yakin akan mendengar semuanya,?”
“Tentu saja bu,” ujarku sedikit bergetar.
“Ya begitu takdir, ibu menyerahkan semuanya pada takdir
sampai kau ditakdirkan untuk lahir dan ibu dilarikan oleh petugas dan akhirnya
sampai di gang ini hingga kau besar,”
Menjelang tengah malam, kami hanya berbicara banyak makna
melalui mata. Kemudian kami meninggalan ruang tamu, mematikan lampu templok dan
menutup lampu. Terlalu berat untuk menutup mata. Rasanya hela nafas ibu dan
cerita tadi membuatku menjadi sesak nafas. Aku percaya takdir, namun sepertinya
nasib sulit untuk dirubah. Kutarik selimutku. Aku harus tidur malam ini.
