Tubuh Bantal

20.04



Pagi ini aku berangkat dengan kereta paling awal menuju ke timur, menuju ke kotamu atau menyongsong masa lalu-ku. Di dalam kereta ini, aku merasa seperti orang lain. Sebagian mereka adalah mahasiswa dan para pekerja kantor, sedangkan aku hanya memakai kaos, bercelana jeans dan memeluk tas ransel. Aku tenggelam dalam hamparan sawah, deretan pegunungan yang tak pernah bergeser dan kabut tebal selalu menyelimuti.

Di deretan penumpang yang anonim, aku mebayangkan dirimu terselip di sudut bangku gerbong ini. Kau terdiam, Sementara aku menyerangmu dengan berbagai pertanyaan. Kemana saja kau selama ini? Apakah kau juga akan pulang ke kotamu? Kenapa kau tidak menghampiriku? Bukankah setiap kita melakukan perjalanan kau akan memintaku bercerita tentang para tikus-tikus di tempat perkuliahan ku dulu, tentang orang-orang yang mebuntutiku, dan tentang kenapa kita bisa jatuh cinta sebegini dahsyatnya di antara ketidak mungkinan?

Apakah aku harus berbohong dengan diriku sendiri bahwa aku tidak bisa melupakanmu? Bertahun-tahun setelah kau pergi, setelah aksi keluarga besarmu yang heroik itu berlalu. Aku hanya mengingat suara-suara mengancam yang tak kunjung reda. Caci maki yang teramat sering hingga membuatku hampir sulit membedakan peristiwa yang hanya dalam benakku atau memang sedang terjadi. Rasa-rasanya saat itu kita sedang memainkan adegan film menyedihkan di kala senja.

Kau tentu tidak lupa amben kayu klasik yang diletakkan diujung barat stasiun ini. Disitulah kita terakhir kali duduk berhimpitan di suatu sore. Satu tahun semenjak aku menjalankan rehabilitasi.  Ketika teriak-teriakan yang sempat memenuhi kepalaku mulai mereda. Dan halusinasiku tak lagi berlebihan. Seorang laki-laki dengan pipi cembung, mata bening, dan bibir tipis tengah duduk disampingku.  Seragam merah-putihmu masih lengkap melekat ditubuhmu. Tentu kau tidak pamit dengan kedua orangtuamu jika menemuiku. Kau membelai rambutku yang panjang. Kemudian mendekapku ditubuhmu yang bantal. Sampai-sampai tak sadar jika kita menjadi tontonan orang-orang distasiun.

“Setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu lagi, ayahku tidak pernah bisa menerima sikapmu. Ia menganggap sikapmu adalah kelainan yang merusak generasi,” ujarmu sambi memandang mataku dalam.
“Apa kau tidak punya pilihan lain?,”
“Aku tidak bisa meninggalkan keluargaku, ayahku tentu telah menyiapkan pilihan yang akan membuatku menyesal seumur hidup,” katamu dengan perut gembulmu yang naik turun.

Warna langit senja yang merona, angin lembut yang menerpa kulitku seakan mengingatkan kenyataan pahit yang ada. Masih jelas kuingat ketika ayahmu mengirim pesan ke telepon genggamku tanpa sepengetahuanmu. ‘Aku tak sudi memiliki menantu sepertimu, perempuan berjiwa rusak. Jauhi anakku, ia hanya seorang bocah yang masih memiliki masa depan yang panjang,’

Dan kau, sebelum keretaku berangkat menuju ke kotaku. Kembali memelukku, untuk terakhir kalinya. “Kau tidak bodoh, aku yang mencintaimu,” bisikmu.

Kini, begitu menginjakkan kaki dikotamu. Semua hal yang mengikat kita mulai datang kembali. Namun dengan warna yang baru. Aku menyusuri trotoar, seperti ketika hendak mengantarkanmu pulang. Ingatan tentang ucapanmu membuatku berhenti di taman kota yang sering kita singgahi untuk beristirahat.

Lihatlah taman kota yang penuh dengan burung pipit, pohon beringin ditengah, rumput hijau yang menutup tanahnya dan angin semilir yang menambah sejuk. Ada bangku kecil ditengah taman kota, tempat kita duduk dan menghabiskan banyak jajananmu. Taman kota ini seperti halnya bioskop besar di pusat kota, kedai ice cream yang buka hingga larut malam dan juga  penginapan tua pinggiran kotamu yang masih menyimpan aroma kayu putih dan bedak bayi yang kau pakai. Ketika ku sentuh bangku kecil taman kota ini, perasaan ku melayang sama seperti menghisap aroma kayu putih dilehermu.

Aku selalu kehilangan diriku disaat seperti itu, melebur dalam sesuatu yang sulit aku pahami, sesuatu yang luas yang tidak bisa aku kendalikan. Aku selalu memusatkan diriku pada jemari mu yang mungil dan bantat. Yang menyentuh seluruh kulitku dan meremas nya di bagian tertentu.
      
“Kau masih seperti anak kecil, kita tidak berbeda,” katamu dengan tersenyum lelah.
Ketika lewat di depan rumahmu, getaran perih itu tak pernah berkurang sedikitpun. Tak ada yang berubah dari rumah ini. Pagar besi berwarna abu-abu, pohon mangga dihalaman rumah dan anggrek-anggrek yang mengelantung  di depan teras rumahmu masih terawat dengan baik.

Rasa sesal mengalir kedalam diriku. Ganjil. Apakah rasa cintaku terkungkung hanya untuk lelaki seusiamu? Ataukah aku tidak akan mampu terlepas dari kenangan? Sepanjang perjalanan pulang, aku kembali memikirkan pertanyaan itu.



You Might Also Like

0 komentar

Instagram