Dilema Makan Banyak Tapi Tetap Kurus

09.31




Ilustrasi bikin sendiri, masih belajar.

Saya suka sekali mencoba jenis makanan baru. Apapun itu, saya sangat suka jajan. Tetapi kebiasaan saya ini tidak berpengaruh pada berat badan saya. Menurut orang-orang saya terlalu kurus. Awalnya saya tidak peduli, tetapi ketika muncul panggilan trepes atau bahkan tepos. Saya merasa kesal, dan bertekat menaikkan berat badan saya.

Berat badan saya memang stuck pada angka 43-46 kg. Untuk mencapai angka 46 kg ini saya masih tidak tahu secara pasti apa yang bisa membuat berat badan saya naik. Pasalnya, saya ingat betul, waktu itu berat badan saya naik 3 kg setelah pulang dari Jogja.

"Lahwong, di Jogja saya cuma tiga hari, pola makan saya juga sama seperti ketika sedang kuliah di Madura, kok pulang-pulang naik tiga kilogram," Batin saya. Ya, masak saya musti tinggal di Jogja biar gampang gemuk.

Saya mencoba mencari cara untuk membuat berat badan saya stabil atau bahkan bertambah, melalui beberapa cara yang saya temukan di internet. Hal pertama yang sering muncul dalam tips mengemukkan badan adalah makan diatas jam 10 malam. Baiklah, cara ini merupakan cara yang paling gampang saya terapkan. Sebagai mahasiswa yang sering berdiskusi ngopi hingga larut, tentu saya akan dapat dengan mudah memesan makanan waktu malam hari.

Setiap tiap diatas jam 10 malam, saya rutin memesan makanan. Mulai dari gorengan, indomie goreng pakai telur, nasi goreng, bakmie, juga tahu tek yang hanya lewat pada malam hari. Semua itu saya lakukan sampai dua minggu.  Saya senang, karena rasanya ada sedikit perubahan pada pipi saya. Betapa kecewanya, ternyata itu cuma ilusi kaca. Saat saya menimbang berat badan saya malah turun dan kembali menjadi 43 kg. Saya sampai timbang dua kali ditempat yang berbeda, berharap timbangan milik klinik kampus rusak. Tetapi, nihil. Berat badan saya memang 43 kg. Huhu~

Gagal dengan cara itu, teman saya menyarankan agar meminum susu sebelum tidur. Disini, saya memilih susu dengan merek dancow dan ultramilk untuk ritual rutin sebelum tidur. Ladalah, berjalan dua minggu alih-alih menjadi gemuk, perut saya malah jadi mules di pagi hari dan terkadang juga diare. Cara lain yang juga ditawarkan teman saya adalah sering ngemil. Memakan camilan apa saja. Untuk cara yang satu ini, tanpa disuruh saya juga dengan sadar melakukannya. Sayangnya bukan badan yang gemuk tapi uang kiriman saya yang lebih cepat habis.

Melihat upaya serius saya untuk menjadi gemuk, Erina salah satu teman saya yang mengampu kuliah jurusan ahli gizi malah menjadi saya untuk subjek uji coba tugas kuliahnya. Saya merasa lucu tapi juga terharu. Setiap minggu saat pulang ke Sidoarjo, saya selalu mendapatkan susu serta susunan list makanan lengkap dengan catatan kandungan gizinya untuk saya terapkan. Saya mencoba menerapkan beberapa menu dan meminum susunya, tetapi berat badan saya tetap sulit untuk naik. Bukan resepnya yang salah. Catatan dari teman saya sudah sesuai takaran gizi yang pas dan sesuai buku panduan. Mungkin memang tubuh saya yang lambat dalam hal ini.

Duh gusti, sampai sekarang saya kadang masih bingung memikirkan bagaimana caranya untuk gemuk.

Beberapa orang yang tidak mengenal saya dengan dekat, mencoba membesarkan hati saya dengan alasan tubuh saya kurus sebab genetik. Hei, teruntuk teman-temanku yang belum pernah main kerumah. Keluarga saya termasuk orang bertubuh gemuk. Bapak dan ibu saya memiliki berat hampir 75 kg, adek saya malah seperti obesitas. Berat badannya 60 kg untuk anak usia 12 tahun. Sepupu-sepupu saya juga memiliki badan dalam kategori ideal cenderung gemol. Bahkan, om saya memiliki berat badan hingga 130 kg. Super sekali, bukan?

Kenyataan tersebut, membuat saya takut jika ternyata ada penyakit pada tubuh saya sehingga penyerapan nutrisi saya tidak sempurna. Puji Tuhan, setelah saya melakukan cek kesehatan tidak ada masalah. Kegagalan saya dalam menaikkan berat badan ini bukan karena saya cacingan. Tubuh saya tergolong sehat dan semua berfungsi dengan baik.

Banyak orang yang mengira, tubuh kurus saya sebab memikirkan sesuatu yang berat. Itu mitos. Pada saat saya mengerjakan skripsi, berat badan saya cenderung naik menjadi 46 kg, padahal waktu itu saya termasuk sedang stress. Bagaimana tidak stress, semester sudah menginjak dua angka.

Yasudah, saya akhirnya mulai berdamai dengan bentuk tubuh saya yang kurus. Mungkin memang jatah yang saya dapat dari tuhan ya segini. Tidak ada hubungannya dengan pola pikir atau perilaku makan saya. Saya juga makin bersyukur ketika melihat banyaknya orang-orang yang harus bekerja keras untuk menurunkan berat badan yang obesitas. Atau orang-orang yang juga harus menjaga apa saja yang dikonsumsinya agar berat badannya stabil. Sedangkan saya apa saja bisa, mau diatas jam 10 atau dini hari tetap aman. Nggiling terus~

Tetapi, masih ada satu hal lagi yang membuat saya kadang frustasi selain sudah makan banyak tetapi tetap kurus adalah olok-olokan trepes dan tepos. Kurus, trepes atau dalam bahasa Indonesia bisa disebut rata, dan tepos itu hal yang berbeda. Kurus adalah keadaan dimana tubuh kurang berdaging atau kurang gemuk. Sedangkan rata atau trepes tidak digunakan untuk bagian tubuh. Rata digunakan untuk permukaan benda atau untuk menyusun tampilan dokumen.

"Edan po, aku mbok celuk rata. Apa kon gak keplayon nek ndelok wong rata seluruh tubuh,"

Dan yang terakhir adalah tepos. Arti kata ini memang pipih atau tidak berisi. Tapi ini ditujukan hanya untuk bagian pantat. Jadi, tolong saya risih dengan celetukan ini, dan itu bukan hal yang lucu. Lagipula, bagian pantat seseorang memiliki bentuk yang bermacam-macam, bukan berarti jika kurus harus selalu dipanggil tepos. Terlihat jika yang dilihat oleh orang-orang hanya tertuju pada bagian sensasional. Memang benar apa yang saya rasakan, masih banyak yang visualisasi terhadap perempuan hanya dari doktrin film blue, ya bagaimana lagi.

Saya harap tidak ada yang menjadi insecure dengan panggilan yang mengarah pada hal-hal sensitif ini.

Sekali lagi saya tekankan. Saya memang kurus dan saya menikmatinya. Ingat cukup anggap kurus bukan trepes atau tepos!
Baiklah, intinya untuk kalian, yang juga memiliki nasib macam saya, jangan lupa sering bersyukur. Kalau ada yang masih memberi julukan aneh-aneh langsung saja jelaskan ditempat. Loske~

Mulut orang emang kadang perlu rem dari orang lain.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram