Degradasi Kepedulian Mahasiswa
04.57
| by: google |
Tidak ada masa yang
lebih menyenangkan selain masa awal-awal kuliah. Teman baru, dosen baru,
pengalaman, petualangan dan tantangan baru. Semua serba baru sampai datanglah
keresahan seputar dunia perkuliahan.
Saya pikir, di
perkuliahan ini saya dapat melakukan banyak hal berguna bersama-sama. Tapi,
jangankan melakukan hal berguna untuk masyarakat. Bahkan untuk mengajak belajar
bersama saja susahnya minta ampun. Saya
pikir, penolakan teman-teman karena kesibukan masing-masing. Seiring waktu,
saya mulai berpikir kalau kesibukan dengan tugas kuliah sampai keasyikan pada
dunia baru ini sudah tidak wajar. Seakan
tak ada hal lain yang harus dicapai selain mendapat IPK bagus dan perlakuan
istimewa dari dosen.
Bukankah seharusnya
sebagai seorang mahasiswa, selain dituntut untuk dapat menguasai keilmuan di
bidang yang digeluti, tapi bukan berarti harus acuh pada masyarakat sekitar.
Sampai saat ini
kepedulian mahasiswa pada masyarakat telah mengalami sebuah degradasi. Mereka
lebih mementingkan kepentingan individu
ketimbang kegunaan diri di masyarakat.
Tuntutan akademik terkait dengan keputusan Permendikbud tentang SNPTN (Standar
Nasional Perguruan Tinggi Negeri) yang mengharuskan mahasiswa S1 atau D4 lulus
dengan batas waktu maksimal 5 tahun membuat mahasiswa dituntut untuk sesegera
mungkin menyelesaikan kuliah maksimal 10 semester.
Selain itu, akibat
tuntutan Permendikbud tersebut membuat para mahasiswa ingin lebih menonjol dari
lainnya dan menyebabkan sikap acuh antara sesama mahasiswa. Serta memicu
persaingan tidak sehat. Selain itu, ketakutan
akan persaingan di dunia kerja menjadi salah satu faktor kurangnya kepedulian
sosial di kalangan mahasiswa.
Anggapan tentang perusahaan
besar hanya mencari mahasiswa dengan IP tinggi membuat mahasiswa hanya
mengebu-ngebu mengejar nilai. Sedangkan ilmu yang didapat merupakan tanggung
jawab besar untuk diaplikasikan dan sebisa mungkin bermanfaat bagi masyarakat.
Namun, yang terjadi
saat ini justru sebaliknya. Mahasiswa dirasa sangat kurang dalam pengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh pada
masyarakat. Semacam virus pseudo
intelektual yang saat ini menjangkiti mahasiswa. Mereka merasa menjadi orang
yang sangat pintar di masyarakat sehingga tidak perlu menghiraukan masyarakat sekitar.
Padahal, ironisnya anggapan dan narsisme intelektual hanya di dalam pikiran dan
tidak dapat dibuktikan di ranah praktis.
Kritis dan pandai beragumen,
memahami banyak wacana-wacana besar. Tapi, rasa-rasanya lucu bila melupakan
hal-hal kecil yang semestinya berguna; melupakan masyarakat di sekitar mereka.
Mahasiswa
juga mahluk sosial
Pada dasarnya manusia adalah
makhluk sosial. Makhluk yang memerlukan orang lain atau sesamanya. Sehingga sebagai
mahasiswa, sudah selayaknya memiliki rasa kepedulian atas sesama. Kesadaran
akan saling membutuhkan harus tertanam di pikiran kita.
Maka seharusnya
dilakukan adalah meluangkan waktu sejenak untuk bercengkrama dengan sekitar
dapat menjadi salah satu cara agar kepedulian pada masyarakat tidak hilang
begitu saja. Seperti gotong-royong, kerja bakti, dan turut aktif dalam setiap
kegiatan masyarakat.
Kepedulian sosial dapat
diterapkan dengan baik akan menghasilkan individu yang berbudi luhur. Namun,
hidup bukan hanya budi luhur tapi kecerdasan dan budi luhur adalah satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kecerdasan tanpa budi luhur akan
berakibat pada kejahatan atas orang lain. Sedang budi luhur tanpa kecerdasan
hanya berujung pada kebodohan. Keselarasan antara budi luhur dengan kecerdasan
akan membentuk individu yang hebat. Disadari atau tidak, melakukan kegiatan
sosial yang merupakan salah satu bentuk kepedulian dan tak lupa dilandasi
dengan tingkat kecerdasan yang tinggi akan menghilangkan penyakit acuh tak acuh.
Citra kita akan meningkat di mata masyarakat dan lebih menonjol dari orang
lain. Selain itu, kita akan mudah mendapat
pekerjaan karena memiliki banyak relasi. Dan segalanya terjadi otomatis.
Menyenangkan bukan?
Tidakkah penat dengan
rutinitas perkuliahan yang memaksa kita untuk berpikir secara keras? Bukankah
diri dan lingkungan adalah sebuah mekanisme yang saling berhubungan? Sudah
semestinya jika kita saling mempedulikan.
0 komentar